Laman

Rabu, 11 Agustus 2010

Obsesi Perempuan dan Eksistensi Tas

Oleh Fanny Chotimah

PEMUJAAN terhadap tas di masyarakat kelas atas makin akut. Tas buatan Prancis bermerek Hermes edisi Birkin tak cukup dihargai dengan delapan digit angka. Perlakuan dan penghormatan terhadap tas makin tak rasional. Bre Redana (Kompas, 10/1/2010) menuliskan pengalamannya dengan Hermes di sebuah lounge hotel mewah berbintang enam di Jakarta. Tas Hermes diperlakukan sangat terhormat. Pelayan menyambut, memberi tempat duduk khusus, dan menyelimuti Hermes, agar terlindung dari cipratan saus. Bagaimana perilaku seperti itu dibenarkan dan dijadikan keniscayaan? Tas Birkin awalnya hanya tas classy dari Hermes. Nama Birkin diambil dari nama aktris Jane Birkin. Tas itu berbahan kulit binatang eksotik -kulit buaya perairan laut -dengan harga sampai 850.000 dolarAS atau setara Rp 765.000.000.

Manusia memakai dompet, kantong, atau tas sejak memiliki kebutuhan untuk membawa barang berharga. Hieroglif Mesir Kuno menunjukkan, pria memakai tas pinggang. Alkitab secara khusus mengidentifikasi Yudas Iskariot sebagai pembawa tas. Pada abad ke-14 dan ke-15, baik lelaki maupun perempuan akan menyertakan kantong dengan fitur paling penting dari pakaian abad pertengahan yang disebut korset. Istilah “tas“ baru muncul abad ke-19. Barang berharga seperti rosario, kitab, jam, pomanders (jeruk wangi), chatelaines (jesper atau kunci), bahkan belati dibawa dengan korset. Tas serut menggantung dari korset pada tali panjang dan akan bervariasi sesuai dengan fashion, status, dan gaya hidup sang pemakai. Wanita, terutama, menyukai hiasan tali tas yang dikenal sebagai hamondeys atau tasques (Foster, 1982).

Sejarah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan industri pada era Victoria menciptakan penampilan yang meluas, juga motif kain yang trendi. Jadi perempuanbisaberkoordinasidengansisapakaianmereka. Meski saku kembali ke tahun 1840-an, perempuan terus membawa dompet dan menghabiskan banyak waktu untuk menyulam.Namun, dengan kemunculan kereta api, tas mengalami revolusi. Tahun 1843, terdapat hampir 2.000 km jalur rel di Great Britain. Karena makin banyak orang bepergian dengan kereta api dan lebih banyak perempuan bekerja, pembuat koper profesional berevolusi dan segera istilah “tas“ muncul untuk melukiskan penemuan baru. Tas diberi nama sesuai dengan nama pemilik perusahaan. Misalnya, Hermes yang didirikan tahun 1837 oleh Thierry Hermes. Begitu juga merek Louis Vuitton. Tas secara historis telah membawa rahasia dan kekuasaan penanda, status, dan keindahan. Berawal dari penjaga peralatan kehidupan seharihari, tas tangan berevolusi mengikuti perkembangan teknologi dan sosial, seperti penemuan uang, perhiasan, transportasi, kosmetik, rokok, telepon seluler, dan peran perempuan di masyarakat. Keniscayaan jika sebuah tas mencerminkan kepribadian sang pemakai membuat perempuan berlomba-lomba mencitrakan diri mereka.

Dimulai dari sosok figur publik dunia, seperti Victoria Beckham yang memiliki koleksi seratus tas Hermes, di dalam negeri kita melihat Hermes menggelantung di tangan para selebritas dan ibu pejabat. Didukung pusat perbelanjaan yang hadir dengan promosi bag days, yang menawarkan berbagai jenis pilihan tas bermerek dengan potongan harga khusus. Dan, jika sampai pada hal-hal yang tak mampu kita bayar, kita pun tak kehabisan akal. Tas bajakan bermerek dengan mutudariKWsuper, KW1,KW2,danseterusnya laris manis di pasaran. Kita mengidentifikasi diri secara gigih lewat peniruan, yang berbiaya lebih murah. Jalan melalui arisan pun dijalani. Kaum sosialita mengadakan arisan tas Hermes dengan anggota tak sembarang orang. Orang-orang terpilih. Eksistensi Tas Pencitraan tas pada awal abad ke-20 menjadi lebih dari sekadar tas tangan. Tas saat ini dibuat dalam penampilan lebih canggih, baik dari gaya maupun materi bahan, seperti kanvas tahan air, usia sintetik ruang, dan kulit reptil imitasi.

Prancang terus bermain dengan paradoks yang melekatdalamtas,mulaidenganbahantransparan yang bisa mengekspose isi tas atau menyembunyikan isi tas di balik merek. Tokoh Samantha dalam film Sex in the City menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Hermes. Dia jadi manipulatif, bersaing tidak fair, dan itu mempertaruhkan kredibilitasnya sebagai publisis terkemuka. Tas Hermes saat ini tak terbeli dengan uang semata-mata. Anda harus menjadi “seseorang“ lebih dahulu, menjadi figur publik terkemuka atau selebritas terkenal. Jika menginginkan edisi personal use, Anda harus memesan dalam daftar tunggu selama dua tahun. Saya membayangkan mampu memesan edisi personalusesetelahpenantianduatahun.Padahal, uang pembeli tas itu bisa untuk memberi makan dan menyekolahkan anak-anak di negara miskin. Saya masih membayangkan tas itu di tangan saya. Saya kenakan saat memasuki lounge hotel mewah dan pelayan menyambut tas itu. Dia mungkin tak tahu dan bagi dia tak penting untuk tahu siapa saya, sebab yang penting tas yang saya pakai adalah Hermes.Tas mendapat eksistensi dan pemaknaan untuk publik. Tepat saat itu tas saya hidup, dan saya mati menjadi aksesori.

Dimuat di Rubrik Perempuan Suara Merdeka 4 Agustus 2010

PECANDU BURSA KERJA

Oleh Asni Furaida

Manusia hidup sebagian besar untuk berkarya sesuai dengan bakat dan minatnya. Karya manusia pada zaman sekarang ini selalu diasosiasikan dengan bekerja. Manusia bekerja bukan lagi untuk menandai eksistensinya sebagai manusia itu sendiri, tapi sudah bergeser tujuan menjadi pencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Bahkan, manusia rela bekerja membanting tulang dan memeras keringat untuk hal tersebut.

Pada zaman teknologi dan globalisasi sekarang ini, dimana tingkat pengangguran semakin tajam, yang hal ini berakibat pula semakin tajamnya persaingan untuk mencari pekerjaan tersebut, bursa kerja seakan tidak pernah sepi dari langganan. Para langganan yang biasanya antri dalam bursa kerja tersebut kebanyakan adalah mahasiswa semester akhir atau fresh graduate, mahasiswa yang baru saja lulus. Mereka dengan ikhlas dan berbesar hati mengantri dalam bursa kerja, dari pagi hingga sore.

Mereka bahkan harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, mulai dari tiket masuk hingga  uang fotokopi kelengkapan administrasi melamar kerja.
Hal yang sangat lumrah dalam bursa kerja itu dimotori oleh sebuah event organizer yang menggandeng beberapa perusahaan yang membutuhkan para pegawai baru. Para perusahaan yang mencari pegawai baru itupun harus mengeluarkan uang khusus, mulai dari uang iklan dan uang sewa bilik dalam bursa kerja. Ternyata mencari para pegawaipun sangat sulit bagi perusahaan-perusahaan tersebut padahal jumlah pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat dan kebanyakan pengangguran itu adalah mahasiswa.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memproyeksikan angka pengangguran pada 2009 naik menjadi 9%, dari angka pengangguran 2008 sebesar 8,5%. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur pada Februari 2008 telah tercatat sebesar 9,43 juta orang. Pada data tersebut, pengangguran di Indonesia bisa dianalogikan dalam suatu lingkaran setan para pencari kerja dan perusahaan yang mencari pegawai. Lingkaran setan ini hingga saat ini belum menemukan solusi yang tepat dan benar. Hingga, bursa pasar kerja dari yang ada di koran dan di job fair selalu menjadi agenda harian yang dipenuhi oleh langganan mahasiswa pencari kerja tersebut.

Melihat kenyataan di atas, ada sedikit pertanyaan yang mengganjal dalam lubuk hati kita? Jika pengangguran yang ada di Indonesia adalah mahasiswa, maka secara logika, kita memiliki pengangguran intelektual yang sangat berlimpah. Hal ini sangat selaras sekali dengan adanya tawaran kerja yang bejibun di koran maupun di job fair.  Lalu ironisnya, pengangguran dan permintaan kerja semakin meningkat dari tahun ke tahun? Apakah berbagai perusahaan pencari kerja tersebut tidak juga menemukan pelamar yang pas? Begitu juga sebaliknya, apakah para mahasiswa pencari kerja tersebut tidak diterima kerja oleh para pencari kerja tersebut?
Ada sedikit keanehan yang dapat ditemukan dalam lingkaran setan ini. Jawaban dari keanehan itu adalah ketidakkompetennya mahasiswa dan sarjana sekarang ini.

Para mahasiswa yang berebut pasar kerja ini kebanyakan mahasiswa manja yang mencoba memenuhi mimpi mereka bekerja dengan pekerjaan yang mudah, tempat kerja yang juga harus di daerahnya serta gaji yang tinggi. Pada kenyataannya,  mencari kerja bukanlah untuk memenuhi mimpi-mimpi mereka, yakni pekerjaan yang ideal. Hingga dampakya para mahasiswa itu berstatus menjadi para pencari kerja abadi, yang selalu ramai dalam bursa pasar kerja.

Kalau para mahasiswa pencari kerja tersebut menyadari, bekerja memerlukan suatu keberanian dan pengorbanan dari jiwa dan raga, maka masalah pengangguran mahasiswa yang berlarut-larut ini niscaya berkurang. Para mahasiswa dan sarjana ini berani mengarungi daerah lain untuk bekerja, seperti layaknya kita tahu tipikal orang-orang Amerika yang tidak takut pindah rumah atau daerah hanya untuk memenuhi panggilan kerja mereka. Sedangkan mahasiswa dan sarjana pencari kerja di Indonesia selalu menunggu pekerjaan impian mereka.

Kenyataan memang akan selalu pahit, tapi kepahitan itu akan berbuah madu, jika kita mencoba mengurai benang kusut dari lingkaran setan ini. Jika yang menjadi permasalahan adalah mahasiswa yang berebut pasar kerja, mengapa para mahasiswa dan sarjana ini yang notabene para intelek tidak menciptakan lapangan kerja sendiri sesuai dengan praktik keilmuan mereka? Dengan melakukan hal tersebut, mahasiswa malah akan menjadi agen penyedia pasar kerja untuk yang lain. Mahasiswa seharusnya memikirkan tentang hal tersebut dan jangan malah meramaikan bursa pasar kerja. Janganlah menjadi pecandu bursa kerja!

Senin, 09 Agustus 2010

Kisah Sang Payudara

Oleh Fanny Chotimah

PARA feminis AS melakukan aksi Boobquake yang menghebohkan, Senin, 26 April. Dalam aksi itu, mereka memamerkan payudara. Lewat situs jejaring facebook, 55.000 orang perempuan menyatakan siap berpartisipasi sebagai relawan. Mereka menujukan aksi itu sebagai serangan pada Kazem Sedighi, ulama Iran yang menghubungkan cara perempuan berpakaian dan gempa bumi. Jennifer McCreight, feminis ateis, berang dan memimpin aksi itu. Sejarah peradaban manusia pernah menempatkan perempuan dalam posisi sakral. Perempuan diagungkan sebagai empu yang melahirkan. Perempuan dianggap lambang kesuburan. Secara fisik, pembeda perempuan dan laki-laki adalah bentuk payudara dan kelamin. Payudara perempuan berkembang jadi besar, sedangkan laki-laki tidak. Laki-laki memiliki penis, sedangkan perempuan punya vagina dengan selaput keperawanan. Namun, sesungguhnya, siapa yang menilai tubuh perempuan? Dilihat dari penamaan, payudara diambil dari bahasa Jawa Kawi. “Payu” berarti laku dan “dara” berarti wanita. Jadi dari segi penamaan bahasa saja, daging yang menggelantung di tubuh perempuan itu sudah dijadikan komoditas. Persoalan payudara jadi lebih kompleks di dunia kapitalistik saat ini. 

Naning Pranoto dalam buku HERStory Sejarah Perjalanan Payudara (2010) menyatakan, “Musuh yang paling menindas kaum perempuan adalah satu sistem kejam tetapi tidak berkelamin.” Sebelum aksi Boobquake, di AS ada organisasi Gotopless yang melakukan aksi protes 26 Agustus setiap tahun. Gotopless memperjuangkan persamaan hak bagi perempuan bertelanjang dada di tempat publik seperti lelaki. Bagi mereka, payudara sama dengan organ tubuh lain seperti tangan dan kaki. Jadi perempuan tak perlu malu dan menutupi agar kelak lelaki bisa membedakan ketelanjangan dan kesensualan. Lelaki diharapkan bisa mengontrol diri melihat pemandangan itu seperti melihat perempuan berok mini. Laki-laki harus bisa mengendalikan diri dengan menunjukkan rasa hormat. Jauh sebelumnya, tahun 1968, feminis di AS melakukan aksi Burning Bra. Para aktivis membakar bra, semua gambar bra, serta iklan bra di majalah. Mereka menolak standardisasi kecantikan. Aksi itu pun merupakan perlawanan terhadap kapitalisme. Terjadi perubahan dalam sejarah mode perempuan. Banyak perempuan berhenti memakai bra atau berhenti membeli lebih.

Ingatkah pada sosok Ni Pollok? Dialah penari Bali dan model lukis yang bersuami Adrien Jean Le Mayeur de Merpres. Pelukis asal Belgia itu jatuh cinta pada sepasang payudara indah Pollok, yang jadi inspirasi dalam lukisannya. Lewat novel Ni Pollok, Yati Maryati Wiharja menceritakan kisah hidup Ni Pollok. Dalam novel tersebut ada informasi menarik bahwa saat kali pertama Le Mayeur mengunjungi Bali, tahun 1932, perempuan di pulau itu masih bertelanjang dada dengan bebas, apalagi di rumah. “Gadis-gadis enak saja dengan dadanya yang telanjang. Tak pernah terjadi seorang lelaki Bali menatap buah dada wanita dengan sinar mata kaget, kagum atau gairah. Semuanya biasa. Tidak ada yang malu. Tak ada yang kagum,” tulis Yati. Cita-cita yang diusung Gotopless pernah terjadi dulu di Bali. Sekarang, apakah Gotopless hendak membawa perempuan kembali ke kondisi primitif? Saya rasa tidak.

Saya percaya manusia sangat dinamis menyikapi perubahan zaman. Namun teknologi bra harus dipertanyakan ulang. Jika fungsi bra hanya untuk menutupi, alangkah tak berguna. Apalagi jika tak ada fungsi yang signifikan. Alasan medis dan estetis bahwa bra membuat payudara tetap kencang tak melorot, sungguh tak masuk akal. Sebab, secara alami seiring pertambahan usia, payudara akan melorot. Masa subur payudara berlangsung saat perempuan berusia 25-35 tahun. Ditambah faktor menyusui dan gravitasi tentu payudara akan melorot.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, pemerintah melarang perempuan Bali bertelanjang dada, kecuali untuk kegiatan seni. Ni Pollok pun risi saat harus bertelanjang dada di pantai, saat banyak pemuda berkeliaran. Apa kata Ni Pollok soal bertelanjang dada? “Apakah itu terjadi karena udara di Bali amat panas, atau hanya karena kebiasaan, aku tak pernah tahu dan tak pernah ingin tahu. Bertelanjang dada adalah biasa.” Memang susah melacak sejarah perjalanan payudara perempuan kita. Sedikit sekali sumber teks tertulis menjadi salah satu kendala. Saya pikir kajian mengenai payudara perlu terus digali agar perempuan menyadari sejarah dirinya. Jadi, bisa lahir sikap yang sejati, tak sekadar ikut-ikutan, mengekor, atau menyerah dan tak berbuat apa-apa.

Dimuat di Rubrik Genderang Gender Suara Merdeka 5 Mei 2010

Televisi, Teknologi Pengantar Ekstase

Oleh Mohamad Fauzi

TANPA teknologi televisi, perhelatan Piala Dunia 2010 bukan perhelatan sedunia karena hanya diikuti 32 negara. Teknologi menduniakan Piala Dunia. Dan, dengan teknologi, ajang sepakbola itu bisa dikatakan tak hanya berlangsung di Afrika Selatan, tetapi juga di layar televisi. Sebesar apa pun pertandingan, sebanyak apa pun penonton di lapangan, dan sekeras, seindah, dan secantik apa pun permainan tim, tak bakal mendunia tanpa teknologi media massa. Pele tidak akan hebat tanpa kehebatan televisi. Maradona tidak memiliki “tangan Tuhan” tanpa televisi yang mampu menayangulangkan, yang memberikan detail kecurangan itu. Ronaldo yang bergigi kelinci dan berambut kuncung tidak sehebat itu tanpa televisi. Atau, Messi tidak sehebat sekarang tanpa televisi. Analoginya, sehebat dan semerdu apa pun suara penyanyi tidak akan terkenal dan mendunia jika cuma menyanyi di kamar mandi. Sehebat apa pun pemain sepak bola jika hanya bermain di kampung dan tidak disiarkan televisi, tetap bukan pemain bintang dan hebat, apalagi mendunia. 

Penyanyi butuh teknologi untuk dikenal dan terkenal. Begitu juga pemain sepak bola. Popularitas dan mendunia mengandaikan keberadaan teknologi media massa televisi yang akan menghubungkan dengan penonton di seluruh dunia. Tak terbayangkan Piala Dunia tanpa teknologi yang masif seperti televisi. Ekstase Menonton Televisi membuat perhelatan olahraga terakbar di dunia itu bisa memasuki ruang keluarga, kafe, kamar kita, dan sebagainya. Kita berteriak, memaki, sedih, berseru, tertegun, diam, dan sebagainya karena pertandingan itu (seakan-akan) terjadi di depan mata. Tak ada beda antara menonton di stadion dan menyaksikan pertandingan depan televisi.

Dalam beberapa hal, penonton televisi bisa merasa lebih dekat karena pesawat itu memungkinkan menampilkan gambar close up dan menayangulangkan momen-momen penting. Jika digambarkan dalam adegan gerak lambat, berikut inilah yang terjadi saat kita berada di depan televisi. Di depan televisi, awalnya kita menyadari berjarak ribuan mil dari stadion pertandingan di Afrika Selatan. Kita masih bisa minum dan mengobrol dengan teman di samping kita. Pertandingan baru saja dimulai. Mata, pikiran, dan emosi kita terarah ke layar televisi. Perebutan bola antartim menyengit. Wasit mengiringi pergerakan bola. Suara riuh penonton di stadion terdengar. Pergerakan bola memasuki area lawan, bola diumpan ke dekat gawang, dari kaki ke kaki antarpemain setim, makin mendekati gawang lawan, makin mendekat ke gawang, diumpankan lagi, bola dikontrol melalui dada, kaki bersiap-siap menendang. Mata, pikiran, dan emosi kita fokus dan menyatu. Nafas kita tertahan. Pemain itu menendang ke gawang lawan, lalu kita berteriak keras sambil memukul meja. Ah, ternyata bola melenceng. Saat itulah kita mengalami ekstase komunikasi yang sesungguhnya; ekstase menonton. Kita menyaksikan dan menikmati ledakan penanda-penanda (signifiers) yang sebenarnya hanya titik-titik fiksel kecil, tetapi lebih nyata daripada pertandingan sesungguhnya di Afrika Selatan. Ya, lebih nyata daripada pertandingan sesungguhnya di lapangan hijau, karena penanda-penanda itu merangsang kita menciptakan kenyataan yang lebih menakjubkan di dalam kepala, wajah, dan bagian tubuh kita dalam bentuk ekspresi. Kita bisa menghilangkan dan mengabaikan kenyataan antara pertandingan di lapangan hijau dan “kenyataan” di layar televisi berkat teknologi. 

Di sinilah konsumsi teknologi televisi terjadi secara masif. Realitas Teknologis Sebagaimana kata Baudrillard (2004), televisi yang dikonsumsi secara tak sadar dan mendalam adalah skema yang harus dilaksanakan, yang dihubungkan dengan esensi teknik media dan esensi teknis pelipatgandaan kenyataan, kecanggihan teknologi, dengan tanda-tanda yang suksesif dan sepadan. Itulah transisi normal yang terprogram dan sangat luar biasa. Selain itu, terdapat peraturan inersia teknologi yang menyatakan bahwa makin dekat kebenaran dokumen, gambar yang dihasilkan teknologi televisi, kian bagus dan berarti dokumen itu sebagai kenyataan dan kebenaran. Karena, orang memburu kenyataan dengan warna, gambar hidup, dan lain sebagainya, meski makin dalam penyempurnaan teknik, realitas dunia pun kian hilang dan tergantikan realitas teknologis. Dan, untuk menghadirkan semua itu di Indonesia, triliunan rupiah dihabiskan. Mulai dari pengadaan teknologi canggih, pembayaran teknisi dan teknolog, sampai pembelian hak siaran yang sampai lebih dari Rp 500 miliar ñ pemegang hak siaran di Indonesia secara eksklusif dimiliki PT Electronic City Entertainment (ECE). Belum lagi miliaran rupiah untuk iklan dan berbagai pernik merchandise. ECE bahkan memberikan izin resmi nonton bareng di 1.300 lokasi. Semua itu untuk ekstase menonton. Maka, lupakan perdebatan tentang perlu atau tidak pemakaian teknologi pemantau di garis gawang yang akan merusak fairplay dan sportivitas dari sepak bola. Karena, menurut pendapat FIFA, teknologi itu akan menghambat kenikmatan penonton sepak bola dan menghambat ekstase di depan layar televisi. Ayo, bersama-sama ekstase!

Perempuan, Kecantikan, dan Kepalsuan

Oleh Puitri Hati Ningsih

MENILIK ajang pemilihan Miss Indonesia, Putri Indonesia, dan kontes pemilihan ratu yang sejenis, dengan memperebutkan mahkota bergilir makin gemebyar  dan berkilau. Apalagi dengan dukungan beberapa perusahaan kosmetik terbesar di negeri ini dan sponsor utama lain.

Gadis-gadis yang lolos seleksi dari segala penjuru provinsi di Tanah Air dikarantina pemilihan selama 14 hari. Secara intensif para unggulan diberi banyak materi sebagai persiapan menghadapi malam penobatan ajang tahunan itu. Para pakar dan profesional memberikan materi secara seimbang antara fisik dan mental. Misalnya, materi kepribadian dan bergaya di panggung.

Tak hanya tubuh yang digarap, tetapi juga jiwa dan kepribadian mereka. Bagaimana sang putri harus berbicara di depan umum, bagaimana cara berjalan yang selaras dengan panggung di bawah sorotan lampu ribuan Watt, serta mengenakan gaun atau adibusana mahakarya seni perancang kelas wahid di negeri ini.
Bagaimana menghadapi kamera, mengemukakan pendapat, dan menjawab tantangan zaman dan menghadapi masalah.

Karena, semboyan yang terkenal dalam kontes pemilihan adalah 3B: brain, beauty, behavior. Putri yang sempurna adalah putri yang cantik luar-dalam, memancarkan inner beauty, memiliki inteligensia, berkepribadian, dan sedap dipandang. Apalagi bila mereka menguasai bahasa asing lebih dari satu, wah, panggung pemilihan bakal lebih semarak, mengagumkan, dan mengundang decak kagum pemirsa televisi di rumah atau hadirin. Itu mungkin akan meruntuhkan teori Newton bahwa kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran.

Sebelum memilih satu putri yang berhak menyandang mahkota dalam satu malam pemilihan itu, dari 20 atau 30 finalis disaring menjadi 10 besar. Dari 10 besar ada kategori putri atau miss yang terpilih menyandang Putri Inteligensia, Putri Bertubuh Indah, Putri Rambut Indah, Putri Lingkungan Hidup, Putri Favorit Pemirsa, Putri Kepribadian, dan lain-lain.

Selain tubuh dan jiwa calon putri yang diperhatikan, juga emosi mereka. Dalam ajang pemilihan itu, meski bersaing ditanamkan pula pada mereka untuk saling memuji dan menyanjung. Tak ada kritik tajam, perdebatan tanpa kekesalan dan keluhan. Karena, itu “dunia surgawi”.

Dari bibir putri bertubuh indah dan berambut sehat lurus, dan berparas bintang harus keluar kata-kata manis dan positif. Sanjung puji, dukungan, dan empati mewarnai pemilihan pemenang. Kalaupun ada masalah atau konflik batin, itu harus mereka sembunyikan jauh di belakang layar yang sunyi.
Karena, para putri itu dikondisikan untuk selalu positif, agung, dan cantik.

Maka, bukan tak mungkin semua di permukaan itu terasa membosankan dan tak asli. Karena, kita tak pernah mendengar kemurnian yang dikhawatirkan menodai pencitraan yang baik pada pemilihan putri. Dalam setiap wawancara pada prapemilihan di arena karantina, para putri itu selalu mengatakan hal-hal indah, berbudi pekerti, dan cenderung tidak kritis.

Beberapa tahun lalu kita dikejutkan oleh kehadiran seorang tokoh, seorang putri Solo yang waktu itu masih bernama GRAY Koes Murtiyah, dari Keraton Kasunanan dengan julukan “Putri Mbalela” karena menentang salah satu kebijakan sang ayahanda, Paku Buwono XII. Juga Angelina Sondakh, salah seorang Putri Indonesia, yang mengkritik penyelenggara panitia dan pemilihan Putri Indonesia dengan menulis buku.

Perempuan takut berkulit hitam dan kusam, maka mereka melindungi tubuh bila bertemu sorot sinar matahari langsung dan selalu memakai lulur dan masker bengkoang. Maka menjadi seorang putri dengan gelar dan tiara di rambut mungkin akan menjadikan mereka tak semerdeka sebelumnya. Dia harus menjaga segalanya; dari kulit, rambut, dan emosi.

Dia kurang nyaman ngudarasa dan tak berani mengkritik tajam, mengeluh, dan melontarkan unek-unek yang mengganjal di hati. Dia harus menjaga dan menahan diri, tak boleh bersaing meski persaingan itu nyata di depan mata. Bahkan dia tak boleh cemburu dan iri hati karena akan menggangu inner beauty-nya. Jadi, akankah acara pemilihan putri dan miss terus berkilau dan memedulikan pikiran mereka bisa merdeka dari protokoler 3B?

Juga memberikan sumbangan pada perubahan nasib perempuan di luar ajang pemilihan dan jadi duta perempuan, bukan semata-mata duta panitia penyelenggara, serta mendukung berderet kekayaan modal?


Dimuat di Suara Merdeka, 23 Juni 2010

Perempuan di Jagat Automotif

Oleh Sartika Dian Nuraini

NALAR patriarki modern dalam jagat automotif secara jelas memperbudak perempuan. Motor dan mobil sebagai produk pembangkit modal kaum kapitalis didesain agar perempuan tak pernah sadar untuk selalu menjadi objek pasar.

Tak hanya terlihat dari foto model perempuan yang berfoto seksi di kalender, iklan automotif membuat nalar perempuan dikonstruksi, sehingga sadar akan kecanggihan dan kemewahan automotif yang mendamba maskulinitas lelaki.

Foto model profesional yang menampakkan belahan dada di kalender iklan automotif telah mengonstruksi pandangan lelaki untuk terus mengikuti arus yang dibawa produsen automotif. Peran perempuan juga memberikan pandangan pada para perempuan untuk terus mendorong lelaki menjadi konsumen kendaraan maskulin. Selain terobjekkan, perempuan di jagat automotif telah memasuki taraf efektualitas pasar. Perempuan digunakan sebagai subjek kapitalis demi meraup keuntungan setinggi langit.

Perempuan menstimulasi lelaki untuk mengikuti tren automotif karena mitos “makin bagus motormu, kian banyak perempuan yang menempel”. Jelas sekali, konstruksi maskulinitas oleh perempuan menjadi aset bagi pemilik modal untuk terus menggunakan perempuan secara material sebagai imaji kesuksesan lelaki. Itu terlihat dari kendaraan yang dimiliki lelaki.

Sampai saat ini, pelacakan industri automotif yang mengarahkan objek ke perempuan sangat mudah terbongkar karena hampir setiap produsen automotif melibatkan perempuan dalam promosi. Lelaki dan perempuan saling terkait untuk menciptakan dinamika kultural terhadap mitos kendaraan yang dibangun para produsen. Hal itu berpengaruh penting terhadap fluktuasi imaji perempuan dalam memandang maskulinitas yang kian bias. Paradigma pikir maskulinitas yang absolut melafalkan kredo pemasaran yang termanifestasikan perempuan.  

Simbol Automotif
Fakta mengejutkan, nyaris tak ada resistensi perempuan akan imaji yang dibentuk kaum kapitalis tentang maskulinitas oleh kendaraan. Kalaupun ada, mungkin tak cukup pintar untuk mematahkan mitos maskulinitas, yang telanjur terbentuk sejak lama. Perempuan terus-menerus menjadi objek dalam sekian banyak pasar automotif dari arena balap, mulai kelas jalanan sampai kelas internasional.

Lihatlah, peran perempuan untuk membawa payung demi mencitrakan kesuksesan lelaki. Para “gadis payung” itulah yang menguatkan argu-mentasi: perempuan hanya pelengkap kesuksesan lelaki. Perempuan sering kali dipandang hanya menjadi simbol otoritas patriarki. Padahal, peranan perempuan memuluskan representasi maskulinitas yang terkonstruksi sebagai alat kapitalis.

Identitas dan eksistensi lelaki pun telah dibentuk oleh nalar itu. Pemilik modal makin pintar memanfaatkan perempuan muda, yang secara mental mudah terintimidasi. Selayaknya Freud mengutarakan teori tentang seksualitas dan maskulinitas, ada “pulsi seksual” yang terbentuk saat pubertas bahwa pulsi muncul dalam bentuk daya tarik tak tertahankan, dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lain. Bentuk “natur seksualitas” itulah yang menjadi dasar untuk merekonstruksi pola pikir perempuan muda tentang maskulinitas.

Bias gender dalam automotif tak terdeteksi. Aroma kosmologi tubuh perempuan makin harum dalam jagat automotif sebagai kontrak sosial maskulinitas. Dalam memperoleh anugerah “kejantanan” itu, lelaki haruslah mengunjungi showroom kendaraan bermotor dan membeli salah satu yang terbaru dengan segala jenis kecanggihan yang ditawarkan produsen kendaraan. Begitukah perempuan sekarang memandang maskulinitas lelaki?

Bias Gender 
Konstruksi dan bias gender antara perempuan dan lelaki masih pada tahap emansipasi belum kritis. Perempuan juga disajikan dalam rubrik-rubrik majalah automotif. Mereka menciptakan ruang bagi perempuan untuk mengisi kolom dalam hal bakat serta hobi mengenai automotif.

Perempuan penggemar automotif merasa telah memiliki embel emansipasi perempuan, padahal jelas sekali deliberasi mereka terejawantah dalam benih privatik. Perempuan mulai mengakumulasi bidang jalan yang mereka perlukan untuk merambah kekuasaan, bahkan melalui jalan pragmatis kapitalisme.

Perjamuan automotif masih mengelu-elukan perempuan. Karena, terbukti perempuan lebih bergairah ketika melihat produk yang ditawarkan produsen automotif. Nalar mereka ngiler melihat segala gaya terbaru mobil dan motor yang secara mitis meningkatkan gairah belanja (konsumtivisme), gengsi, dan erat berkait dengan citra masyarakat tentang status sosial.

Sering kali produsen automotif juga mencari embel-embel yang lebih mengunjukkan kekuasaan yang dilekatkan pada bandrol produk mereka. Menggunakan kalimat persuasif yang kian hiperbolik untuk mengukuhkan citra produk yang tiada dua.

Tak ayal, perempuan dalam imaji ideal beranggapan bahwa lelaki akan tetap eksis dengan reputasi sukses hanya dengan melihat kendaraan yang mereka pakai. Eksistensi wagu yang dicipta produsen dalam relasi emotif dengan jargon ekstrapenetratif.

Perempuan yang geger melihat lelaki berkendaraan canggih tentu kerepotan dengan dandanan yang tipis-tipis saja. Mereka harus menata kembali rambut hingga ke ujung kala kendaraan mewah itu lewat atau diparkir di depan mata. Flirting dilancarkan, kemudian pasrah kepada Tuhan agar dimuluskan segala aksi menggaet lelaki bertitel sukses di dalam mobil itu. Perempuan dalam nalar itu adalah perempuan yang cinta menjadi budak maskulinitas dan terkungkung dalam politik ekonomi para produsen automotif. Sampai kapan perempuan terlena dan menjadi korban dalam jagat automotif? Entahlah.

Dimuat di Suara Merdeka, 16 Juni 2010

Yang Hilang yang Menjelang

Oleh Fanny Chotimah

SETIAP kali membaca esai soal perempuan tulisan lelaki, saya seperti bercermin. Saya dipaksa berkaca diri. Muncul tanda tanya besar yang membuat saya mencurigai lelaki yang mengikhlaskan hidup untuk mengurusi persoalan perempuan. Saya dibuat percaya pada pandangan mereka, yang tampak meyakinkan, untuk menjelaskan keperempuanan saya. Pantulan bayangan saya sebagai perempuan terasa asing dan tak utuh. Saya dihantui pertanyaan, siapa dan apakah saya? Di manakah dan sedang apakah perempuan yang lain, saat para lelaki bergairah menulis di atas tubuh kami dan berbicara meminjam bibir kami? Bagaimana berterima perempuan yang mengenali diri karena penjelasan dari para lelaki? Keberteri-maan yang kontradiktif itu masih sering kita alami, baik melalui televisi, koran, pengajian, seminar, penyuluhan, perkuliahan, maupun obrolan ringan di kampung.

Lelaki yang menjelaskan tentang perempuan tentu tak dapat mendalami sisi utuh perempuan. Mereka hanya mengenali perempuan dari yang tampak atau gejala, yang kemungkinan bisa jadi pembenar kriteria untuk menjelaskan tentang perempuan. Contoh menarik adalah tulisan Bandung Mawardi, “Perempuan Menjelaskan Perempuan” (Suara Merdeka, 25 April 2010), yang menyadarkan saya tentang ketidakjelasan posisi lelaki dan perempuan untuk menjelaskan perempuan. Sepertinya Bandung Mawardi mau memberikan cermin, meski membuat saya bertanya-tanya, “Dengan cara apa saya dapat percaya usulan untuk gerakan perempuan menjelaskan perempuan, jika usul itu dari lelaki yang kemungkinan besar juga dipengaruhi paradigma sebagai lelaki, bukan perempuan?”

Cermin itu membuat saya mencari agar penjelasan perempuan dapat kita terima, yang semestinya dilakukan perempuan dengan perspektif perempuan pula. Setidaknya Oka Rusmini dalam buku Pandora (2008) hadir untuk menyatakan diri keperempuanannya dalam puisi, “Bagaimana mungkin seorang penulis lelaki bisa merasakan hamil, ngidam atau melahirkan? Hal-hal seperti ini hanya bisa digarap oleh perempuan karena hanya bisa dipahami oleh perempuan.” Saya menyetujui pernyataan Oka Rusmini yang sadar selama ini tubuh perempuan dalam sastra hanya dijadikan objek, bukan subjek. Pergulatan Virginia Wolf dan Simone de Beauvoir menghasilkan pandangan bahwa sistem patriarkilah yang bersalah telah memosisikan perempuan sebagai makhluk lemah, sehingga tak tersedia kesempatan bagi perempuan. Saya bisa mengerti kondisi saat itu, dan sepertinya cara ekstrem harus ditempuh. Jalan bunuh diri dengan membunuh keperempuanan untuk jadi seperti laki-laki. Dengan berpakaian, berlaku, dan berkata seperti laki-laki. Sudah adakah karya besar yang lahir dari perempuan?

Tak Bahagia
Dalam artikel “So Why are So Many Women are Unhappy” dipertanyakan, mengapa banyak perempuan tak bahagia? Artikel itu menyajikan hasil penelitian bahwa perempuan di Barat saat ini mengalami sepuluh kali tingkat depresi daripada tahun 1945. Tak terbayangkan tingkat depresi yang akan dialami tahun 2020. Ternyata kesempatan akan kesetaraan yang makin terbuka bagi perempuan saat ini jadi bumerang. Sebab, mereka dituntut meraih pencapaian sama dengan lelaki di setiap bidang. Padahal, mereka tetap terikat urusan domestik sehingga beban peran ganda jadi berkali lipat. Carrol Gilligan lewat buku Dalam Suara yang Lain (1997) menggugat penilaian moral yang selama ini didominasi cara pandang lelaki. Tokoh perkembangan manusia, seperti Freud, Erikson, Kohlberg, memakai model lelaki dan tentu saja perspektif lelaki sebagai tolok ukur perkembangan manusia. Jadi baik lelaki maupun perempuan jika tak mencapai kriteria tolok ukur itu dianggap berkesadaran moral rendah atau gagal. Itu berangkat dari prinsip moral dalam diri perempuan.

Prinsip moral yang menyangkut kepedulian, kasih sayang, dan tanggung jawab pada orang lain. Carol Gilligan melahirkan teori etika kepedulian sebagai tolok ukur yang harus dipakai dalam menilai pencapaian perkembangan etika dan moral perempuan. Terbukti, perempuan dan lelaki berbeda. Tak hanya dari segi biologis, tetapi juga dalam perkembangan psikologis. Perbedaan itu tak bisa dijadikan pembenaran bahwa yang satu lemah dan yang lain lebih kuat sehingga satu pihak mendominasi pihak lain. Sampai kapan perempuan hanya puas berperan sebagai inspirasi dalam kelahiran karya besar? Tak sadarkah perempuan bahwa dia sebuah karya? Sebuah karya besar menunggu dilahirkan dari perempuan. Menunggu, mungkin berkesan pasif? Karena itu, marilah kaum perempuan menulis untuk menjelaskan diri, sebelum dijelaskan oleh lelaki. Berani?

Dimuat di Rubrik Genderang Gender Suara Merdeka 2 Juni 2010